Pergi ke BAWAH  

Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Saturday, 10 April 2010

Jika Fenomenanya Begitu …. Adakah Nasyid Islami Saat Ini?


Oleh: Farid Nu’man Hasan

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.(QS. Adz Dzariyat (51): 55)
                Ini adalah fenomena baru, walau tidak terlalu baru. Dahulu kami pernah melihat di sebuah video klip konser nasyid di sebuah kampus negeri ternama di tanah air. Mual melihatnya. Tapi, kami mencoba berbaik sesangka, dan memang seharusnya demikian; yakni bahwa mereka adalah orang yang baru tersentuh tarbiyah, bisa jadi romantika kejahiliyahan masih  ada dan tidak secepat itu bisa berubah.
                Lalu, kami tak pernah lagi memperhatikan   dunia  nasyid, yang kami tahu hanyalah bahwa nasyid saat ini telah menggunakan musik dengan berbagai jenisnya. Padahal dahulunya diharamkan, bahkan nasyid Al Quds (1993) yang hanya menggunakan bedug sempat terjadi pro kontra. Dahulu Ikhwah tidak menganggap nasyid terhadap; hadad alwi dan sulis, NGeK (Nasyid Gang Kober) yang dimiliki mahasiswa Fakultas Sastra UI (sekarang FIB), apa pasal? Karena mereka menggunakan musik, seperti gitar, piano, dan biola!  Yah, cepat sekali pagi menjadi malam. Nasyid saat ini, sudah melebihi mereka dalam liberasi menggunakan alat-alat musik. Mereka terjatuh pada kubangan yang dahulu mereka haramkan. Perbedaan dengan dangdut, pop, rock, jazz, dan ganremusik lainnya hanya pada syair dan bumbu teriakan takbirnya –yang seakan sekedar syarat saja untuk tetap disebut nasyid-, ada pun gaya penyanyinya, lighting, dan setting panggung, beti (beda-beda tipis) dengan yang lain.
Sementara di penonton, mulai terjadi ikhtilath, histeris melihat munsyid beraksi, dan mereka menghentakan tubuh dan menggoyangkan kaki, sebagaimana yang kami lihat langsung di aksi Munasharah Palestina di Monas, beberapa hari yang lalu. Entah adakah jiwa yang berontak saat itu melihat ini?
                Kira-kira tahun 1996-1997, aktifis dakwah heboh dan risih dengan rencana kelompok nasyid akhwat BESTARI untuk masuk dapur rekaman walau hanya untuk kalangan  wanita. Apakah ada jaminan hanya akhwat yang mendengar? Terjadilah pro – kontra, namun masalah ini hilang dengan sendirinya. Itu dahulu.  Saat ini, tak ada lagi yang protes ketika wanita bernyanyi di atas panggung di depan ribuan laki-laki yang bukan mahramnya, saatMunasharah di Monas. (Saat itu kami baru sampai,  kami dan isteri hanya bisa istighfar dan menggelengkan kepala)
                Menurut mayoritas fuqaha (ahli fiqih/juris) mendengarkan nyanyian adalah HARAM, yakni JIKA:
1.       Jika dibarengi dengan hal yang munkar
2.       Jika ditakuti mengantarkan kepada fitnah seperti terperangkap oleh wanita, atau remaja yang masih sangat muda, atau bangkitnya syahwat yang mengantarkannya pada zina
3.       Jika membuat pendengarnya meninggalkan kewajiban agama seperti shalat, dan   meninggalkan kewajiban dunia yang harus dilakukannya, ada pun jika sampai meninggalkan perbuatan sunah maka itu makruh, seperti meninggalkan shalat malam, doa di waktu sahur, dan semisalnya. (Ihya ‘Ulumuddin, 2/269. Sunan Al Baihaqi, 5/69, 97. Asna Al Mathalib, 4/44, terbitan Al Maktabah Al Islamiyah. Hasyiah Al Jumal, 5/380, terbitan Dar Ihya At Turats. Hasyiah Ibnu ‘Abidin, 4/384 dan 5/22, Hasyiah Ad Dasuqi, 4/166. Al Mughni, 9/175, Al Manar Ats Tsalitsah.‘Umdatul Qari, 6/271, terbitan Al Muniriyah)

Artinya kebolehannya tidak mutlak, mesti diberikan syarat. Ada pun pendapat Syafi’iyah, Malikiyah, dan sebagian Hanabilah, bahwa hal itu (nyanyian untuk menghibur jiwa) adalah  makruh. Jika mendengarkannya dari wanita ajnabiyah (bukan mahram) maka lebih makruh lagi. Kalangan Malikiyah menerangkan sebab kemakruhannya, karena mendengarkan nyanyian menghilangkan muru’ah (citra diri yang baik/wibawa). Sedangkan Syafi’iyah mengatakan; “ Di dalamnya terdapat  hal yang  melalaikan.”  Sedangkan Imam Ahmad menjelaskan sebabnya: “Aku tidak menyukai nyanyian , karena nyanyian dapat menumbuhkan nifaq di hati.”  (Hasyiah Ad Dasuqi, 4/166. Al Mughni, 9/175. Asna Al Mathalib, 4/344)
Para ulama yang membolehkan pun bukan tanpa syarat, dan jika syarat ini dilanggar maka mereka tetap mengharamkan, sebagaimana dikatakan Imam Al Ghazali Rahmatullah ‘Alaih dan Syaikh Yusuf Al QaradhawiHafizhahullah dalam kitab Fiqh Al Ghina wal Musiqy fi Dhau’il Quran was Sunnah.
Syarat tersebut adalah;
1.       Syair tidak boleh bertentangan dengan syariat. (Tahun 2000an, sempat ada nasyid berjudul:Tuhan ada di mana-mana, ini adalah kalimat  kufur, sebagaimana yang dikatakan Imam Abu HanifahRadhiallahu ‘Anhu)
2.        Gaya menyanyikannya tidak mengandung maksiat. (Di antaranya adalah tidak meniru-niru gaya orang kafir dan fasiq ketika bernyanyi)
3.       Nyanyian tersebut tidak dibarengi sesuatu yang diharamkan. (Syaikh Al Qaradhawi memasukkanikhtilath termasuk hal yang diharamkan ada dalam pertunjukkan nyanyian)
4.       Tidak berlebihan dalam mendengarkannya.
5.       Terkait dengan keadaan dan perilaku pendengar (penonton). (Imam Al Ghazali pun menerangkan bahwa kebolehan mendengarkan nyanyian bisa menjadi haram karena perubahan pada perilaku pendengarnya saat mendengarkan/menontonnya. Ini perlu disadari oleh para penikmat nasyid yang jingkrak-jingkrak dan histeris itu ….)
Kami hanya ingin mengatakan: “Seandainya pun itu tidak haram, seharusnya malu terhadap status sebagai aktifis Islam.  Seharusnya jidat yang hitam dan jenggot  bisa menahan diri dari itu …. .”
Demikian ini adalah sikap  para ulama jika lagu (nasyid) tanpa musik -yang semakin tidak dikenal oleh generasi tarbiyah saat ini (karena generasi tua pun meninggalkannya!), lalu bagaimana jika dengan musik?
Ada pun musik, Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
صوتان ملعونان في الدنيا والآخرة مزمار عند نعمة ورنة عند مصيبة
“Ada dua suara yang dilaknat di dunia dan akhirat; suara seruling ketika mendapatkan kenikmatan dan raungan ketika musibah.” (HR. Al Bazzar, para perawinya: tsiqat. Syaikh Al Albani menghasankan. Lihat Shahih At Targhib wat Tarhib No. 3527)
                Abdullah bin ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma berkata:
الدف حرام والمعازف حرام والكوبة حرام والمزمار حرام.
          “Rebana adalah haram, al ma’azif adalah haram, gendang adalah haram, dan seruling adalah haram.” (HR. Al Baihaqi, 10/222. Dari jalan Abdul Karim Al Jazari dari Abu Hasyim Al Kufi. Syaikh Al Albani mengatakan: isnadnya shahih. Lihat Tahrim Alat Ath Tharb, Hal. 92. Cet. 3,  1426H-2005M. Muasasah Ar Rayyan)
                Apakah Al Ma’azif? Berkata Imam Adz Dzahabi Rahimahullah:
اسم لكل آلات الملاهي التي يعزف بها، كالزمر، والطنبور، والشبابة، والصنوج.
                “Nama untuk semua alat-alat musik yang dimainkan, seperti seruling, tamborin, syabaabah (sejenis seruling juga),   simbal (sejenis alat musik).” (Siyar A’lam An Nubala, 21/158)
                Sedangkan  ‘Alim Rabbani Al Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah mengartikan:
أن المعازف هى آلات اللهو كلها، لا خلاف بين أهل اللغة فى ذلك.
                “Bahwa Al Ma’azif adalah semua alat-alat musik, dan tidak ada perbedaan pendapat di antara ahli bahasa tentang itu.” (Ighatsatul Lahfan, Hal. 260)
                Imam Hasan Al Bashri Radhiallahu ‘Anhu mengatakan:
ليس الدفوف من أمر المسلمين في شيء وأصحاب عبد الله يعني ابن مسعود كانوا يشققونها.
                “Rebana sama sekali bukan berasal dari budaya kaum muslimin, dan para sahabat Abdullah bin Mas’ud merobek-robeknya.” (Tahrim Alat Ath Tharb, Hal. 103-104)
                Imam Abu Yusuf Rahimahullah –murid dari Imam Abu Hanifah Radhiallahu ‘Anhu, berkata, tentang mendengarkan suara alat musik dari rumah seseorang:
أدخل عليهم بغير إذنهم، لأن النهى عن المنكر فرض
                “Masuklah ke rumah mereka dengan tanpa izin, karena mencegah kemungkaran adalah wajib.” (Ibid, Hal. 227)
                Demikian di antara celaan terhadap musik dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sahabat, tabi’in, dan imam kaum muslimin.
                ………………….
                Sementara itu semakin banyak aktifis Islam, ikhwan dan akhwat, yang semakin tidak mengindahkan ini. Mereka tidak peduli (atau tidak tahu?), indhibath syar’i-nya menipis. Ringtone dipilih dari musik  jahiliyah yangngetrend atau pernah ngetrend, baik Barat atau Indonesia,  yang membuat  pendengarnya terasosiasi dan teringat dengan lagu jahiliyah tersebut, bahkan teringat dengan penyanyinya, lebih jauh lagi membawa manusia larut dalam kenangan lama ketika belum tersentuh Islam.
                Ada juga di antara mereka yang mengkoleksi di HP,   MP3, flashdisk,  atau MP4, juga Lap top lagu-lagu barat dan Indonesia yang dicampur juga oleh murattal. Ketika berkumpul dengan orang baik, mereka menyetelmurattal sebagai pencitraan, tapi dalam perjalanan   atau dalam kesendirian mereka menyetel lagu tersebut. Bahkan ada juga yang tanpa malu menyanyikan lagu-lagu itu di depan orang lain yang terlanjur menilainya sebagai aktifis dakwah; ikhwan dan akhwat ..  tak peduli dengan jilbab lebarnya, dan tidak peduli dengan itu semua. Emang gue pikirin! Mumpung murabbi tidak melihat (sayangnya, murabbinya pun juga demikian!)
                Laa hawlaa wa laa quwwata illa billah …
                Ini baru satu masalah; yaitu nasyid anak zaman sekarang. Masih menumpuk masalah lain; rapat pakai hijab tapi boncengan motor berdua dengan  yang bukan mahram, chatting genit berawal membicarakan dakwah, SMS cinta yang dibumbui ‘jangan lupa shalat malam’, akhwat yang tabarruj (bersolek) dan memakai parfume di luar rumahnya,  saling mengingkat janji padahal rencana nikah masih tiga tahun lagi, tidak berwibawanya institusi murabbi dalam memberikan pertimbangan memilih jodoh, nge –take person tertentu, patah hati lalu berhenti tarbiyah, bahkan ada yang sampai pada tingkat berzina, dan segudang masalah lainnya. Untuk kalangan ikhwah produk lama, tidak kalah masalah mereka; kejenuhan tarbiyah, malas amal da’awi, rumah tangga hambar, anak bermasalah, yang akhwat  jilbab semakin pendek, yang ikhwan bosan dengan isterinya, dan seterusnya.
                Ini memang bukan kejadian yang massiv, dan umumnya sangat personally dan kasuistis –bahkan bisa jadi ada yang mengatakan sebagai kejadian manusiawi dan lumrah, tapi tidak kita ingkari keberadaannya sudah mulai tidak dikatakan sedikit, bahkan  ada yang keadaan dan kasusnya  lebih tidak mengenakkan  untuk diceritakan, dan lebih tidak pantas terjadi.
                Maka, wajib bagi aktifis Islam untuk takut kepada Allah Ta’ala, membersihkan niatnya, serta semakin memahami dan menghayati apa yang dipelajarinya, lalu berpegang teguh kepadanya. Semoga Allah Ta’ala mengampuni kesalahan kita semua, dan membimbing kita ke jalan yang lebih baik ….
                Wallahu A’lam 

Selengkapnya >>

Wednesday, 7 April 2010

Waspadai Lima Bala Di Tengah Masyarakat (II)

SAMBUNGAN.....  


Kedua, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam meminta kita mewaspadai tersebarnya kebiasaan yanqusul-mikyaala wal miizaan (kebiasaan mengurangi timbangan dan takaran) di tengah masyarakat. Kebiasaan yanqusul-mikyaala wal miizaan akan meyebabkan terjadinya kemarau berkepanjangan dan hadirnya penguasa zalim di tengah masyarakat.


وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ  ”


(2)Tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran kecuali mereka akan disiksa dengan kemarau berkepanjangan dan penguasa yang zhalim.” (HR Ibnu Majah 4009) Dewasa ini kitapun merasakan hal ini telah menjadi realitas dalam kehidupan baik pada skala nasional maupun global. 


Banyak sekali manusia yang mengembangkan kebiasaan mengurangi timbangan dan takaran. Ini merupakan suatu kebiasaan buruk yang pada intinya bersumber dari kebiasaan menipu demi memperoleh keuntungan dunia yang sedikit malalui cara yang tidak halal.  


Kebiasaan menipu telah merebak di segenap lapisan masyarakat, baik kalangan bawah maupun lapisan elit. Baik itu rakyat biasa maupun para pejabat tinggi. Bagitu pula ia telah merebak sejak usia masih duduk di bangku sekolah sampai menjadi pemimpin di tengah masyarakat. Kalangan berusia muda maupun kaum manula. 


Dan kebiasaan menipu ini ditampilkan baik dengan cara kasar-transparan maupun halus-tersamar. Masyarakat menyaksikan bagaimana pejabat publik mengambil keputusan melakukan korupsi secara terang-terangan sambil berlindung di balik berbagai dalil perundang-undangan formal. Atau masyarakat biasa melakukan korupsi terselubung seperti misalnya: seorang Pegawai Negeri Sipil tidak punya anak, lalu mendaftarkan anak angkat sebagai anak kandung supaya dapat tunjangan. Atau seorang janda yang ditinggal wafat seorang suami PNS, padahal sudah menikah lagi namun tidak melaporkannya, sehingga walau sudah tidak janda tetap memperoleh pensiun janda. Atau misalnya seorang anak yang sudah nikah tidak dilaporkan agar tetap dapat tunjangan keluarga. Atau seorang siswa bahkan guru terlibat dalam jual-beli soal-soal dan kunci-kunci jawaban Ujian Nasional (UN). 


Masih pedulikah mereka apakah uang dari kebiasaan menipu itu halal atau haram? Semua kebiasaan menipu di atas telah menjadi fenomena umum di tengah masyarakat dewasa ini. Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memperingatkan kita selaku ummatnya bahwa hal ini akan mendatangkan konsekuensi buruk bagi masyarakat tersebut. Sehingga musim menjadi kacau balau. Bila datang musim kemarau, maka kemarau itu panjang dan sangat getir bagi kebanyakan manusia. 


Bila datang musim penghujan, maka air hujan yang turun seringkali menjadi sumber bencana seperti banjir dan longsor dimana-mana. Di samping itu Allah akan taqdirkan munculnya penguasa zalim di tengah masyarakat jika kebiasaan menipu telah menggejala.  


Sejujurnya, inilah yang sekarang berlaku. Karena banyaknya bentuk kebiasaan menipu, maka muncullah kemarau panjang dan penguasa zalim. Pantas melalui kitabNya Allah melarang kebiasaan yanqusul-mikyaala wal miizaan (kebiasaan mengurangi timbangan dan takaran):


وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ وَلا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِنِّي أَرَاكُمْ بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُحِيطٍ وَيَا قَوْمِ أَوْفُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ وَلا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلا تَعْثَوْا فِي الأرْضِ مُفْسِدِينَ  


”Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syuaib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)." Dan Syuaib berkata: "Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.” (QS Huud ayat 84-85)  


Jika demikian keadaannya, masihkah kita perlu heran mengapa musim kian tahun kian sulit diprediksi? Dan mengapa alam tampaknya kian tidak bersahabat dengan manusia yang hidup di sekitarnya, sehingga muncullah bencana kelaparan ketika kemarau dan banjir serta longsor ketika musim hujan. 


Masihkah kita mesti kebingungan mengapa para penguasa di berbagai level kepemimpinan, baik kepala desa hingga presiden negara adikuasa berperilaku zalim dan dibenci oleh sebagian besar rakyat yang dipimpinnya? Saudaraku, marilah kita menjadi manusia jujur dalam segala gerak-gerik hidup. 


Marilah kita cukupkan takaran dan timbangan dengan adil, sehingga musim dan cuaca menjadi bersahabat kembali dengan manusia. Sehingga pemimpin yang muncul di tengah kita merupakan pemimpin yang amanah, adil dan jauh lebih takut kepada konsekuensi di akhirat yang kekal daripada sekedar memperhitungkan akibat di dunia fana. Amin ya Rabb. (BERSAMBUNG) www.eramuslim.com
Selengkapnya >>

Friday, 2 April 2010

Waspadai Lima Bala Di Tengah Masyarakat (I)

Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam meminta kaum Muhajirin agar mewaspadai munculnya lima bala atau bencana yang disebabkan oleh lima dosa. Agar pemahaman kita utuh marilah kita perhatikan kelengkapan hadits tersebut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ أَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ

صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَفَقَالَ يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ

إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِأَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ

فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَاإِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ

الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْالَّذِينَ مَضَوْا

وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ

وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ

وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ

إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا

وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ

عَلَيْهِمْ عَدُوًّامِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ

وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا

مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

Dari Abdullah bin Umar dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menghadapkan wajah ke kami dan bersabda: "Wahai golongan Muhajirin, lima perkara apabila kalian mendapat cobaan dengannya, dan aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak mengalaminya; (1)Tidaklah kekejian menyebar di suatu kaum, kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah mereka penyakit Tha'un dan kelaparan yang belum pernah terjadi terhadap para pendahulu mereka. (2)Tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran kecuali mereka akan disiksa dengan kemarau berkepanjangan dan penguasa yang zhalim. (3)Tidaklah mereka enggan membayar zakat harta-harta mereka kecuali langit akan berhenti meneteskan air untuk mereka, kalau bukan karena hewan-hewan ternak niscaya mereka tidak akan beri hujan. (4)Tidaklah mereka melanggar janji Allah dan Rasul-Nya kecuali Allah akan kuasakan atas mereka musuh dari luar mereka dan menguasainya. Dan (5)tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan rasa takut di antara mereka." (HR Ibnu Majah 4009)

Saudaraku, sungguh jika kita perhatikan hadits ini lalu direfleksikan kepada kondisi negeri dimana kita hidup dewasa ini –bahkan kondisi dunia secara umum- maka nyata benar bahwa kelima-limanya sudah menjadi kenyataan pada zaman penuh fitnah dewasa ini..! Silahkan kita perhatikan satu per satu peringatan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di atas:

Pertama, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam meminta kita mewaspadai tersebarnya faakhisyah (kekejian) secara terang-terangan di tengah masyarakat. Bila kekejian telah menyebar di tengah masyarakat, maka berbagai penyakit Tha’un (menular) beserta kelaparan akan menggejala di tengah kaum tersebut yang tidak pernah terjadi pada para pendahulu mereka.

Sejujurnya, inilah yang sekarang berlaku. Karena banyaknya bentuk kekejian secara terang-terangan yang muncul di tengah kita, maka kitapun menyaksikan banyaknya orang yang terjangkit penyakit menular serta kelaparan. Berbagai tayangan dan pemberitaan di televisi menyiarkan banyaknya dan bervariasinya kekejian yang dilakoni manusia modern. Setiap hari kita disajikan berbagai isyu dan gosip mengenai perselingkuhan, perselisihan dan perceraian para selebritis bahkan tokoh masyarakat. Malah belakangan ini kita sering mendengar banyakanya kasus bayi yang kelahirannya tidak diharapkan, sehingga sang ibu dengan teganya meninggalkan si bayi di sembarang tempat. Mengapa bayi itu ”dibuang”? Karena sang ibu tidak mau menanggung malu sebab bayi tadi merupakan hasil hubungan di luar pernikahan (baca: perzinaan). Oleh karenanya, Al-Qur’an tidak saja mengharamkan orang-orang beriman untuk berzina, bahkan mendekati perbuatan zina saja sudah dilarang...!

وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al-Israa ayat 32)

Bahkan kita juga disajikan kekejian di tengah masyarakat berupa terang-terangannya manusia menjalin hubungan sexual sejenis (kelamin), baik itu lelaki dengan sesamanya (gay alias homosexuality) maupun wanita dengan sesamanya (lesbianisme). Malah di sebagian negara bagian Amerika Serikat sudah ada undang-undang yang meresmikan pernikahan sesama jenis kelamin. Padahal Al-Qur’an dengan jelas dan tegas mengharamkan perilaku keji ini:

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ أَئِنَّكُمْ

لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

”Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fakhisyah itu sedang kamu melihat (nya)?" Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)".(QS An-Naml ayat 54-55)

Jika demikian keadaannya, masihkah kita perlu heran mengapa terdapat berbagai penyakit menular di tengah masyarakat negeri ini, malah masyarakat dunia secara umum? Sehingga kita dengar dimana-mana manusia ketakutan dengan penyakit menular seperti demam berdarah dan lain sebagainya. Bahkan dunia dikejutkan dengan munculnya berbagai penyakit menular baru yang tidak pernah terjadi pada para pendahulu seperti misalnya flu burung dan flu babi. Begitu pula, masihkah kita mesti kebingungan mengapa kelaparan merebak di negeri ini bahkan di seluruh dunia, padahal majalah Forbes baru saja melansir daftar 1000 orang terkaya di dunia yang mana salah seorang di antara mereka aset kekayaannya ada yang mencapai sepertiga kekayaan negara Indonesia, yaitu lebih dari 50 milyar dollar Amerika...?!

BERSAMBUNG....

www.eramuslim.com
Selengkapnya >>

Thursday, 1 April 2010

Ayah! Shalat Subuh

Oleh: Kodar Slamet, SPd

dakwatuna.com - Suatu hari seorang anak sedang belajar di sekolahnya, dia baru kelas 3 SD. Di salah satu pelajaran, seorang guru menjelaskan tentang shalat subuh dan dia menyimaknya dengan seksama. Mulailah gurunya berbicara tentang keutamaan dan pentingnya shalat subuh dengan cara yang menggugah, tersentuhlah anak didiknya yang masih kecil itu. Terpengaruhlah seorang anak kecil tadi oleh perkataan gurunya sementara ini dia belum pernah shalat subuh sebelumnya dan juga keluarganya.

Ketika dia pulang ke rumah, berfikirlah dia bagaimana caranya supaya bisa bangun untuk shalat subuh besoknya. Dia tidak mendapatkan caranya selain tidak tidur semalaman sampai bisa melaksanakan shalat subuh. Dia melakukan caranya itu. Dan ketika mendengar azan, bergegaslah dia untuk menjalankan shalat subuh. Tetapi ada masalah bagi anak kecil ini untuk sampai ke masjid karena letaknya jauh dari rumahnya. Dia tidak bisa berangkat sendirian, maka menangislah dia dan duduk di depan pintu. Tetapi tiba-tiba dia mendengar suara sepatu seseorang dari arah jalan, dibukalah pintu dan keluarlah segera dari rumahnya. Nampaknya kakek ini menuju masjid. Anak kecil ini melihat sang kakek dan dia kenal. Kakek ini adalah kakek temannya, Ahmad. Anak kecil ini mengikuti Kakek Ahmad di belakangnya dengan rasa khawatir dan perlahan-lahan dalam berjalan, jangan sampai Si kakek merasa diikuti dan melaporkan dia ke keluarganya dan yang kemungkinan akan menghukumnya. Berjalanlah peristiwa ini seterusnya sampai pada suatu ketika Si kakek dipanggil oleh Allah Pemilik jiwa dan raganya. Si kakek wafat.

Anak kecil mendengar kabar ini, tertegunlah dia dan menangis sejadi-jadinya. Ayahnya sangat heran melihat kondisi seperti ini, kemudian bertanyalah kepada anaknya, “wahai anakku kenapa kamu menangis sampai seperti ini, dia itu bukan teman bermainmu dan bukan pula saudaramu yang hilang?” Anak kecil itu melihat kearah ayahnya dengan berlinang air mata penuh kesedihan, dan berkata kepada ayahnya, “seandainya yang meninggal itu ayah, bukan dia.” Bagai disambar petir dan tercenganglah seorang ayah kenapa anaknya yang berkata dengan ungkapan seperti itu, dan kenapa begitu cintanya anaknya kepada si kakek? Anak kecil menjawab dengan suara parau, “Aku tidak kehilangan dia karena hal-hal yang ayah sebutkan.” Bertambah heran ayahnya itu dan bertanya, “lalu karena apa?” Anak itu menjawab, “karena shalat ayah….karena shalat!” Kemudian anak itu menambahkan pembicaraannya, “Ayah, kenapa ayah tidak shalat subuh? Kenapa ayah tidak seperti si kakek dan seperti orang lain yang aku lihat?” Berkata ayahnya, “dimana kamu melihatnya?” Anak kecil itu menjawab, “di masjid.” Berkata lagi ayahnya, “bagaimana kisahnya?” Maka berceritalah anak kecil itu kepada ayahnya tentang apa yang dilakukan selama ini. Tersentuhlah seorang ayah oleh anaknya, lembutlah hati dan tubuhnya, jatuhlah air matanya, dipeluklah anaknya, dan semenjak peristiwa itu, ayah anak itu tidak pernah meninggalkan shalat satu waktupun dan semuanya dilakukan di masjid. (athfal lakin du’ah)


sumber : http://www.dakwatuna.com/2010/ayah-shalat-subuh/

Selengkapnya >>

Dahsyatnya Khasiat Wudhu

Oleh: Ahmad Wali Radhi

Dakwatuna.com -
Wudhu adalah ritual yang mengutamakan unsur kesehatan. Bagian-bagian yang dibasuh merupakan titik-titik penting peremajaan tubuh. Di lain pihak juga merupakan pintu masuk bagi ribuan kuman,virus, dan bakteri. Bagaimana wudhu menangkalnya?

Stimulasi Titik Biologis

Dalam sebuah artikel yang ditulis Dr. Magomedov,asisten pada lembaga General Hygiene and Ecology di Daghestan State Medical Academy dijelaskan bagaiman wudhu dapat menstimulasi/merangsang irama tubuh alami. Rangsangan ini muncul pada seluruh tubuh,khususnya pada area yang disebut Biological Active Spots (BASes) atau titik-titk aktif biologis. Menurut riset ini,BASes mirip dengan titik-titik refleksologi Cina.

Bedanya,terang Dr. Magomedov,untuk menguasai titik-titik refleksi Cina dengan tuntas paling tidak dibutuhkan waktu 15-20 tahun. Bandingkan dengan praktik wudhu yang sangat sederhana. Keutamaan lainnya,refleksologi hanya berfungsi menyembuhkan sedangkan wudhu sangat efektif mencegah masuknya bibit penyakit.

Menurut peneliti yang juga menguasai ilmu refleksologi Cina ini,61 dari 65 titik refleks Cina adalah bagian tubuh yang dibasuh air wudhu. Lima lainnya terletak antara tumit dan lutut,dimana bagian ini juga merupakan area wudhu yang tidak diwajibkan.

Sistem metabolisme tubuh manusia terhubung dengan jutaan saraf yang ujungnya tersebar di sepanjang kulit. Guyuran air wudhu dalam konsep pengobatan modern adalah hidromassage alias pijat dengan memanfaatkan air sebagai media penyembuhan.

Membasuh area wajah misalnya,pijatan air akan memberi efek positif pada usus,ginjal, dan sisitem saraf maupun reproduksi. Membasuh kaki kiri berefek positif pada kelenjat pituitari. Di telinga terdapat ratusan titik biologis yang akan menurunkan tekanan darah dan mengurangi sakit.

Hancurkan Penyusup

Dari sudut pandang pengobatan medis,Mokhtar Salem dalam bukunya Prayers: a Sport for the Body and Soul menjelaskan bahwa wudhu bisa mencegah kanker kulit. Jenis kanker ini lebih banyak disebabkan oleh bahan-bahan kimia yang setiap hari menempel dan terserap oleh kulit. Cara paling efektif mengeyahkan resiko ini adalah membersihkannya secara rutin. Berwudhu lima kali sehari adalah antisipasi yang lebih dari cukup.

Menurut Salem,membasuh wajah meremajakan sel-sel kulit muka dan membantu mencegah munculnya keriput. Selain kulit,wudhu juga meremajakan selaput lendir yang menjadi gugus depan pertahanan tubuh. Peremajaan menjadi penting karena salah satu tugas utama lendir ibarat membawa contoh benda asing yang masuk kepada 2 senjata pamungkas yang sudah dimilki oleh manusia secara alami,limfosit T(sel T) dan limfosit B(sel B).Keduanya bersiaga di jaringan limfoid dan sistem getah bening serta mampu menghancurkan penyusup yang berniat buruk terhadap tubuh. Bayangkan jika fungsi mereka terganggu. Sebaliknya, wudhu meningkatkan daya kerja mereka.

Pintu masuk lain yang tak kalah penting adalah lubang hidung. Dalam wudhu disunnahkan menghirup air kedalam hidung dan kemudian mengeluarkannya. Cara ini adalah penangkal efektif ISPA (infeksi saluran pernapasan akut),TBC, dan kanker nasofaring secara dini.

Kita sebagai seorang muslim sangat dianjurkan untuk selalu mengambil air wudhu ketika sedang berhadast. Tidak hanya pada waktu sholat,tetapi juga di waktu yang lain. Salah satunya ketika hendak membaca Al-Qur’an,setelah mengantarkan jenazah,bangun dari tidur ataupun ketika sedang mengantuk.

Selain fungsi fisiologis,wudhu juga efektif mengendalikan emosi. Setiap kali mersa ingin marah, seorang muslim sangat dianjurkan untuk mengambil air wudhu untuk mendinginkan pikiran dan menentramkan hati. Apa pun yang yang telah diperintahkan oleh Allah tentu memberi banyak manfaat dan solusi tanpa meninggalkan resiko.Oleh karenanya,mari sebagai seorang muslim kita budayakan kebiasaan untuk selalu berwudhu dalam keseharian kita.Allah sangat mencintai orang-orang yang selalu membersihkan diri.


Sumber : http://www.dakwatuna.com/2010/dahsyatnya-khasiat-wudhu/

Selengkapnya >>

Monday, 29 March 2010

Teknik Mengingat Nama Orang

Menjadi pribadi yang menarik dan menyenangkan adalah sesuatu yang dapat menguntungkan hidup kita dalam aspek apapun dan mengingat nama orang lain adalah salah satu yang membuat Anda menjadi pribadi yang menyenangkan dimata orang lain. Dale Carnegie mengatakan, “Suara yang paling manis dalam bahasa apapun adalah nama seseorang.” Bagaimana perasaan Anda saat nama Anda disebut oleh orang lain dalam forum publik maupun dalam percakapan yang Anda lakukan..??

Lalu, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengingat nama orang lain saat kita berkenalan..??

Lima detik..!! Itulah waktu buat Anda untuk membuat kesan pertama yang hebat. Lima detik adalah waktu yang diperlukan untuk memperkenalkan diri dan mengingat nama seseorang. Tak diragukan lagi, orang akan merasa tersanjung ketika Anda mengingat namanya. Manakala Anda mengingat nama seseorang yang baru saja Anda jumpai, Anda membuatnya merasa penting dan istimewa serta menambahkan kehangatan dan keramahan pribadi Anda dalam percakapan. Mengingat nama juga menunjukkan bahwa Anda mendengarkan, membangun hubungan baik dengan kenalan-kenalan baru dan membantu mengatasi kendala alami yang memisahkan orang yang tidak saling mengenal.

Sudah berapa kali Anda berbicara dengan orang yang telah anda kenal sebelumnya tetapi Anda tidak dapat mengingat namanya..??

Atau Anda pergi ke sebuah pertemuan dan Anda diperkenalkan dengan seseorang, namun lima detik kemudian Anda tidak ingat namanya..??

Alasan paling umum lupa terhadap nama adalah tidak fokus pada saat perkenalan sehingga Anda tidak pernah mendengarnya sejak awal. Anda terlalu sibuk memikirkan apa yang akan Anda katakan selanjutnya atau khawatir dengan apa yang akan dipikirkan orang lain terhadap Anda.Self Talk yang kontraproduktif ini biasanya berbunyi : ”Apa yang akan saya katakan setelah saya mengatakan halo..??”, atau ”Apakah rambut saya kelihatan baik..??” atau ”Saya tidak ingin terlalu berani” atau ”Saya yakin akan mengatakan sesuatu yang bodoh” atau ”Saya berharap memberikan kesan yang baik” atau ”Saya ragu apakah...”

Gangguan lain seperti musik yang keras atau orang-orang yang sedang berbicara juga dapat menyebabkan Anda kesulitan menangkap nama yang disebutkan. Akan tetapi, tidak adanya ketertarikan adalah alasan terburuk bagi kendala memfokuskan pada nama seseorang. Jika Anda berkata kepada diri sendiri, ”Barangkali saya tidak akan pernah melihat orang ini lagi, jadi kenapa saya harus repot-repot mengetahui namanya” ini berarti Anda sedang menyiapkan sebuah percakapan yang singkat, kacau dan impersonal.

Lima Detik Dalam Perkenalan Untuk Menjadi Pribadi Yang Menarik

Ø Detik Pertama : Fokus pada saat perkenalan
Beritahu orang lain bahwa Anda menganggap namanya penting dengan memberikan perhatian penuh kepadanya ketika Anda diperkenalkan. Lakukan kontak mata langsung, berikan senyuman hangat dan ulurkan tangan untuk berjabatan tangan dengan kuat dan bersahabat. Menahan jabat tangan orang lain sedetik lagi dapat membantu Anda fokus pada saat kritis waktu perkenalan dan apa yang akan muncul berikutnya adalah namanya.


Ø Detik Kedua : Jangan memikirkan apa yang akan Anda katakan – simaklah namanya.
Inilah saat yang Anda tunggu-tunggu, jadi jangan kacaukan dengan berpikir tentang diri sendiri dan apa yang akan Anda katakan selanjutnya. Pusatkan perhatian Anda sepenuhnya dan simak setiap huruf dari nama orang itu, terutama huruf-huruf awalnya. Jika Anda tidak menangkap namanya, katakan saja ”Maaf, saya belum jelas dengan nama Anda” atau ”Maaf saya tidak bisa menangkap nama Anda”. Jika namanya tidak biasa, nama asing atau Anda masih tidak yakin dengan apa yang ia katakan, tanyakan : ”Bisakah Anda mengeja kembali nama Anda..?? Saya ingin mengetahuinya dengan benar.”

Ø Detik Ketiga : Ulangi nama itu keras-keras.
Pastikan untuk mengulangi nama itu guna memastikan bahwa Anda mengetahuinya dengan benar. Bayangkan segera huruf-huruf awal itu tampak jelas di dahi orang tersebut atau hubungkan dengan sebuah ciri pada wajahnya. Hal ini mungkin terdengar aneh, tetapi akan berhasil, khususnya ketika Anda mencoba mengingat kembali nama itu dikemudian hari.
Mengulang nama juga memiliki beberapa manfaat tambahan. Pertama, cara ini memberi tahu orang lain bahwa Anda mendengarkan dan bahwa Anda berupaya mengingat namanya. Cara ini menyenangkan orang. Kedua, jika Anda salah mengetahui namanya, hal itu memungkinkan orang lain mengoreksi Anda. Terakhir, dengan mengulang nama, memikirkannya, mengatakannya dan kemudian mendengarnya lagi akan memberi Anda tiga pengulangan lebih selain mendengar nama itu untuk yang pertama kali. Dan, sebagaimana disepakati kebanyakan pakar, pengulangan adalah salah satu bagian kunci dari retensi dan ingatan atau berlatih menjadikan sempurna.

Ø Detik Keempat : Pikirkan seseorang yang Anda kenal yang sama namanya.
Pikirkan semua orang yang Anda kenal yang namanya sama. Ada kemungkinan ketika Anda bertemu seseorang baru, ia memiliki nama yang sama dengan seseorang yang telah Anda kenal, dan ini akan membantu Anda mengingat nama itu.Ketika Anda diperkenalkan, pikirkan seseorang yang sudah Anda kenal yang namanya sama, baik itu dari kerabat Anda atau rekan Anda. Sebaiknya tambatkan pada orang pertama yang melintas di benak Anda dan gunakan orang yang sama itu tiap kali Anda bertemu seseorang baru yang memiliki nama seperti itu.
Misalnya tiap kali saya bertemu orang baru bernama Bambang, maka yang saya pikirkan adalah Pak Bambang Guru Ekonomi saya sewaktu SMU. Dua orang itu tidak perlu kelihatan mirip. Dan Anda bahkan tidak perlu benar-benar mengenal mereka secara pribadi. Nama itu bisa saja milik seorang bintang film atau seseorang yang pernah Anda dengar sebelumnya, walaupun tidak anda kenal secara pribadi. Teknik ini mungkin kedengaran aneh, tetapi dengan sedikit latihan, Anda akan mengingat sebagian besar kenalan baru Anda yang memiliki nama sama.

Ø Detik Kelima : Gunakan nama itu selama percakapan dan pada saat akhir percakapan.
”Don, ketika Anda mengatakan bahwa Anda....” atau ”Bob, apa yang membuat Anda memutuskan untuk ...” atau ”Sis, benar-benar menyenangkan mendengarkan kisah perjalanan hidup Anda..”

Menggunakan nama seseorang sama artinya dengan personalisasi percakapan karena memperkuat memori dan kemampuan Anda mengingat pada perjumpaan selanjutnya. Mengakhiri percakapan dengan namanya meninggalkan kesan pertama yang sangat baik dan melengkapi siklus memulai, melanjutkan dan mengakhiri percakapan.

Ditulis Oleh: Yahya Zulkan
Selengkapnya >>

2 Buah Batu Bata


Pada saat saya off beberapa waktu yang lalu saya  bertemu dengan seorang kawan yang baru menikah 1 tahun… mereka adalah pasangan yang sudah cukup lama menjalin hubungan sebelum memutuskan untuk menikah...(maklum.. mereka sudah pacaran mulai kuliah..). Akan tetapi pada saat itu kawan tersebut bercerita bahwa dia mengalami masalah rumah tangga yang cukup berat, bahkan dia berencana untuk menceraikan istri yang baru dinikahi tersebut...
Kemudian saya meminta dia untuk menceritakan apa ”masalah berat” yang mengancam rumah tangganya tersebut. Ternyata yang menjadi masalah adalah cuma karena salah pengertian saja... sang istri belum memahami apa kemauan dari sang suami...
Saya lalu teringat sebuah kisah yang pernah saya baca beberapa tahun yang lalu dan mungkin bisa bermanfaat bagi kawan tersebut..
*
Kisah itu tentang seorang fisikawan yang memutuskan untuk menjadi biksu. Seperti yang kita ketahui, tidak ada biksu yang kaya... mereka terbiasa hidup apa adanya..(padahal kalau saja dia mau melanjutkan hidup sebagai fisikawan pastilah dia sudah kaya raya sekarang...)
Pada suatu ketika para biksu tersebut ingin membangun sebuah wihara untuk mereka beribadah. Akan tetapi setelah mereka sanggup membeli tanah untuk wihara, mereka jatuh bangkrut. Mereka terjerat hutang. Tidak ada bangunan diatas tanah itu, bahkan sebuah gubuk pun tidak ada. Pada minggu – minggu pertama, mereka tidur diatas pintu – pintu tua yang mereka beli murah dari pasar loak. Mereka mengganjal pintu – pintu itu dengan batu bata disetiap sudut untuk meninggikannya dari tanah (tidak ada matras – tentu saja, mereka adalah petapa hutan).
Mereka hanyalah biksu – biksu miskin yang memerlukan sebuah bangunan. Mereka tidak mampu membayar tukang (bahan – bahan bangunan saja sudah cukup mahal). Jadi fisikawan tersebut harus belajar cara bertukang : bagaimana menyiapkan pondasi, menyemen, dan memasang batu bata, mendirikan atap, memasang pipa – pipa (pokoknya semuanya...). Dia adalah seorang mantan fisikawan dan guru SMA sebelum menjadi biksu, tidak terbiasa bekerja kasar. Setelah beberapa tahun dia menjadi cukup terampil bertukang. Tetapi pada saat memulai, ternyata bertukang itu sangatlah sulit.
Kelihatannya gampang, membuat tembok dengan batu bata : tinggal tuangkan seonggok semen, sedikit ketok sana, sedikit ketok sini. Ketika dia mulai memasang batu bata, dia ketok satu sisi untuk meratakannya, tapi sisi lainnya malah jadi naik. Lalu dia ratakan sisi yang naik itu, batu batanya jadi melenceng. Setelah diratakan kembali, sisi yang pertama malah terangkat lagi !!!!
Sebagai seorang biksu, dia memiliki kesabaran dan waktu sebanyak yang dia butuhkan. Dia pastikan setiap batu bata terpasang dengan sempurna, tak peduli berapa lama jadinya. Akhirnya dia berhasil menyelesaikan tembok batu batanya yang pertama dan berdiri dibaliknya untuk mengagumi hasil karyanya. Saat itulah dia melihatnya... Oh tidak... dia telah keliru menyusun dua buah batu bata. Semua batu bata yang lain sudah lurus, tetapi dua batu bata tersebut tampak miring. Mereka terlihat jelek sekali. Mereka merusak keseluruhan tembok. Mereka meruntuhkannya...
Saat itu semen sudah terlanjur keras untuk mencabut dua batu bata itu, jadi biksu itu bertanya kepada kepala wihara apakah dia boleh membongkar tembok itu dan membangun kembali tembok yang baru, atau kalau perlu, meledakkannya sekalian. Biksu itu telah berbuat kesalahan dan dia menjadi gundah gulana. Kepala wihara bilang tidak perlu, biarkan saja temboknya seperti itu.
Ketika biksu tersebut membawa tamu pertamanya berkunjung mengelilingi wihara yang baru setengah jadi, dia selalu menghindarkan membawa mereka melewati tembok batu bata yang dia buat. Biksu itu tidak suka jika ada orang yang melihatnya. Lalu suatu hari, kira – kira 3 – 4 bulan setelah dia membangun tembok itu, biksu tersebut berjalan dengan seorang pengunjung dan dia melihatnya.....
"Itu tembok yang indah,” pengunjung itu berkomentar dengan santainya.
”Pak,” biksu itu menjawab dengan terkejut, ”apakah kacamata Anda tertinggal di mobil? Apakah penglihatan anda sedang terganggu? Tidakkah anda melihat dua batu bata jelek yang merusak keseluruhan tembok itu?”
Apa yang pengunjung itu ucapkan selanjutnya telah mengubah keseluruhan pandangan biksu tersebut terhadap tembok itu, berkenaan dengan diri dia sendiri dan banyak aspek lainnya dalam kehidupan. Dia berkata, ”Ya, saya bisa melihat dua bata jelek itu, namun saya juga melihat 998 batu bata yang bagus.”
Biksu itu tertegun. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga bulan, dia mampu melihat batu bata  - batu bata lainnya selain dua bata jelek itu. Di atas, dibawah, di kiri, dan di kanan dari dua bata jelek itu adalah batu bata – batu bata yang bagus, batu bata yang sempurna. Lebih dari itu, jumlah bata yang terpasang sempurna, jauh lebih banyak daripada dua bata jelek itu. Selama ini mata biksu itu hanya terpusat pada dua kesalahan yang telah dia perbuat.... dia terbutakan oleh hal - hal lainnya. Itulah sebabnya biksu tersebut tidak tahan melihat tembok itu, atau tidak rela membiarkan orang lain melihatnya juga. Itulah sebabnya dia ingin menghancurkannya. Sekarang dia dapat melihat batu bata – batu bata yang bagus, tembok itu jadi tampak tidak terlalu buruk lagi. Tembok itu menjadi, seperti yang dikatakan pengunjung tadi, ” Sebuah tembok yang indah.”
Tembok itu masih tetap berdiri sampai hari ini, setelah puluhan tahun, namun biksu itu sudah lupa dimana letak persisnya dua bata jelek itu berada. Dia benar – benar tidak dapat melihat kesalahan itu lagi.
*
Berapa banyak orang yang memutuskan hubungan atau bercerai karena semua yang mereka lihat dari diri pasangannya adalah ”dua bata jelek?” Berapa banyak diantara kita yang menjadi depresi atau bahkan ingin bunuh diri, karena semua yang kita lihat dalam diri kita hanyalah ”dua bata jelek?” Pada kenyataannya, ada banyak, jauh lebih banyak batu bata yang bagus (diatas, dibawah, dikiri, dan dikanan dari yang jelek....) namun pada saat itu kita tidak mampu melihatnya. Malahan setiap kali kita melihatnya, mata kita hanya terfokus pada kesalahan yang kita perbuat. Semua yang kita lihat adalah kesalahan, dan kita mengira yang ada hanyalah kekeliruan semata, karena itu kita ingin menghancurkannya. Dan terkadang, sayangnya, kita benar – benar menghancurkan ”sebuah tembok yang indah”.
Kita semua memiliki ”dua buah bata jelek”, namun batu bata yang baik didalam diri kita masing – masing jauh lebih banyak daripada bata yang jelek. Begitu kita melihat batu bata yang baik, semua akan tampak tidak terlalu buruk lagi. Bukan hanya kita bisa berdamai dengan diri sendiri, termasuk dengan kesalahan – kesalahan kita namun juga bisa menkmati hidup bersama pasangan kita....
Saya juga mempunyai beberapa kawan yang berprofesi sebagai tukang bangunan. Mereka memberi tahu saya tentang rahasia profesi mereka :
” Kami para tukang bangunan selalu membuat kesalahan,” katanya, ”tetapi kami bilang kepada pelanggan kami bahwa itu adalah ”ciri unik” yang tiada duanya di rumah – rumah yang lain. Lalu kami menagih biaya extra untuk ”ciri unik” tersebut !!!”
Jadi, ”ciri unik” di rumah anda, bisa jadi, awalnya adalah sebuah kesalahan. Dengan cara yang sama, apa yang anda kira sebagai kesalahan pada diri anda, rekan anda, pasangan anda, atau hidup pada umumnya, dapat menjadi sebuah ”ciri unik”, yang memperkaya hidup anda di dunia ini, ketika anda tidak lagi terfokus padanya....
Author : Unknown
Ditulis ulang oleh: Yahya Zulkan
Selengkapnya >>

Mendayagunakan Potensi Waktu

Waktu demi waktu yang sudah kita jalani. Jika mau jujur, tiap desah napas adalah satu langkah menuju kubur. Perayaan ulang tahun, sebenarnya adalah perayaan berkurangnya jatah umur kita. Alangkah ruginya jikalau kita menjalani sesuatu yang begitu berharga lalu kita sia-siakan dia. Begitu urgennya masalah waktu, sampai ada yang mengatakan, "Jika engkau ingin tahu manusia yang paling bodoh, lihatlah orang yang diberi modal dan modalnya dihamburkan sia-sia."

Tidak bisa kita pungkiri bahwa satu-satunya yang tidak bisa direm adalah waktu. Setiap orang punya jatah yang sama, 24 jam. Orang yang sukses dengan yang gagal, begitupun calon ahli surga dan calon ahli neraka, waktu yang diberikan kepada mereka semua adalah sama. Yang jadi soal adalah bagaimana mengelola waktu agar menjadi manfaat di dunia dan akhirat?

Karena itulah Allah SWT meletakkan waktu sebagai nilai yang menentukan timbangan kerugian dan keuntungan manusia dalam hidupnya. Seperti yang tercantum dalam surat Al 'Ashr ayat 1-3: Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling menasehati dalam menaati kebenaran dan nasehat menasehati dalam menetapi kesabaran.

Surat Al 'Ashr di atas memang laksana laut tak bertepi. Setiap kali kita men-tadabburi-nya, setiap itu pula kita menemukan makna-makna baru yang menuntut kesadaran baru yang lebih intens dalam soal waktu. Paling tidak, dari surat tersebut kita yakin bahwa setiap manusia hanya akan menghabiskan waktunya dalam kerugian, kecuali mereka yang memiliki kemampuan memanfaatkan waktu untuk empat perkara.

Pertama, 
orang yang pasti beruntung adalah orang yang setiap hari bertambah kekuatan iman dan keyakinannya terhadap kebenaran. Jadi, kalau orang bertambah usia tapi tidak mengerti hidup ini untuk apa dan diabdikan untuk siapa? Dia tidak mengerti agama, tidak mengerti iman, maka hidupnya benar-benar sia-sia saja. Hidupnya hampa karena perbuatannya tidak dilandasi niat ibadah karena Allah.

Jadi 'maaf-maaf' saja, orang punya harta, gelar, pangkat, jabatan, punya segala-galanya, tapi tidak punya iman, dia termasuk orang yang merugi. Bobot pahala tidak dihitung dari semua itu. Betapa kasihan, sudah sibuk luar biasa di dunia tapi ketika mati hanya jadi bangkai, lalu hanya dosa-dosanya saja yang akan dihitung. Naudzubillahi mindzalik.

Lantas bagaimana agar iman menjadi kuat? Pupuk penguat iman adalah ilmu. Jika kita tidak pernah mencari ilmu, maka sama saja dengan menanam pohon tanpa memupuknya. Lambat laun pohon itu akan layu, menguning, kering, dan mati.

Kedua, 
ciri orang yang beruntung adalah mereka yang dapat memanfaatkan setiap waktunya menjadi amal saleh. Kita tidak perlu dipusingkan dengan apa yang akan kita dapatkan, karena pahala dan balasan dari setiap amal tidak akan tertukar. Tidak ada yang tertukar dari karunia dan balasan Allah. Yang harus kita pikirkan setiap waktu adalah bagaimana agar setiap detik waktu kita bisa jadi amal kebaikan?

Oleh karena itu jangan panik dengan apa pun yang belum terjadi, jika telah kita isi setiap waktu kita dengan beramal, beramal, dan beramal. Buat diri kita bagaikan radar, yang teramat sensitif ketika melihat ladang amal, Insya Allah kita akan beruntung. Jangan banyak berharap ini dan itu dari setiap amal yang kita perbuat, karena dengan sendirinya amal-amal itu akan mengundang keberkahan bagi diri kita sendiri.

Ketiga,
ciri selanjutnya adalah orang yang mendakwahkan kebenaran. 
Orang itu beruntung kalau menjadi contoh kebaikan, sehingga setiap orang yang meniru kebaikan kita, kebaikan itu pahalanya mengalir juga untuknya. Semua manusia pasti mati. Dan salah satu warisan yang seharusnya kita tinggalkan adalah nama baik. Sedangkan nama baik hanya ada kalau hidup kita menjadi contoh kebaikan. Jangan sampai ketika kita mati, yang diceritakan orang lain tentang kita adalah kisah buram tentang si koruptor, si maling uang rakyat, si sombong, si serakah, dan semacamnya. Na'udzubillah.

Nabi Muhammad saw merupakan contoh kebaikan. Sejak ribuan tahun yang lalu hingga detik ini, bahkan menjangkau jarak hingga ribuan kilometer, hanya kebaikan-kebaikannya yang banyak disebut orang. Subhanallah. Salah satu sebabnya adalah karena sebagai orang yang sangat terpelihara dari kesia-siaan. Sekecil apa pun perbuatannya, Rasulullah terbebas dari kesia-siaan. Rasulullah saw adalah pribadi efektif yang penuh makna.

Maka, kalau kita ingin termasuk orang-orang yang beruntung, usahakanlah agar setiap waktu membuat diri kita bagaikan cahaya matahari. Menerangi orang-orang yang berada dalam kegelapan. Menumbuhkan bibit-bibit kebaikan, menyegarkan batang-batang yang layu. Karena itu, tempalah diri kita sedemikian rupa agar selalu menjadi jalan kebaikan bagi sebanyak mungkin hamba-hamba Allah. Tidak peduli agama apa pun, karena kita tercipta untuk menjadi rahmatan lil 'alamin, rahmat bagi seluruh alam. Hingga bagi binatang pun, kita harus menjadi rahmat. Insya Allah.

Keempat, 
ciri terakhir orang itu yakin bahwa setiap waktu yang dia jalani akan banyak menghadapi cobaan-cobaan. Oleh karena itu, hanya orang-orang yang punya kesabaran di dalam menegakkan kebenaran inilah yang beruntung. Sebab jika tidak sabar, kita akan goyah, rontok, tidak menjadi contoh, dan akhirnya kita tidak memperoleh apa pun di akhirat kelak. Kekuatan pribadi untuk saling menasihati dalam kebenaran adalah bagian dari keberuntungan kita semua. Tanpa kesabaran, mustahil kita akan mengenal Allah dengan baik. Akibatnya kita akan dilanda nestapa. Na'udzubillah.

Orang yang cantik jelita maupun gagah rupawan serta memiliki jabatan dan kedudukan tinggi, tapi tidak mengenal Allah, tidak beramal saleh, dan pribadinya hanya menjadi contoh keburukan, maka hidupnya hanyalah kerugian. Karena sehebat apa pun topeng duniawi yang kita miliki hanya bersifat sementara. Semua yang gagah akan mati, semua yang punya jabatan, gelar, kekayaan, atau kedudukan, juga akan mati. Masalahnya, apakah kematian itu khusnul khatimah (baik di akhirnya) atau su'ul khatimah (jelek di akhirnya)? Semua itu pada akhirnya lebih bergantung dari bagaimana cara kita mengisi waktu demi waktu dalam hidup ini.

***

Waktu 24 jam sehari tidak bisa kita tambah. Sekalipun kita beli jam tangan yang 36 jam (kalau saja ada), pasti tidak laku, karena waktu akan berjalan apa adanya. Dan kita tidak bisa mengeremnya. Idealnya setiap waktu sudah ada jadwal kebaikannya sendiri-sendiri. Yang kerap membuat rusak urusan kita adalah karena kita salah mengisinya. Untuk memenej waktu, yang paling penting adalah membuat peta dari apa yang akan kita lakukan. Tanyakan pada diri kita: Apa yang wajib kita lakukan? Apa yang sunah? Dan apa yang mubah-mubah saja untuk diperbuat? Contoh yang wajib ditunaikan adalah hak Allah (shalat), hak istirahat, dan hak makan. Selanjutnya yang sunah sebut saja berolahraga. Dan yang mubah, misalnya rekreasi atau menonton tv (yang acaranya bermanfaat tentu). Kalau acaranya buruk, tentu kita lebih tahu bagaimana menyikapinya.

Seorang mahasiswa yang akan menghadapi ujian, waktunya tiga bulan lagi, maka seharusnya dia membuat perencanaan. Sehari, atau belajar berapa jam? Katakanlah dua jam. Seminggu mau berapa kali belajar? Enam kali. Berarti 6 x 2 = 12 jam per minggu dan satu bulan ada sekitar 48 jam. Jadi dalam tiga bulan dia sudah harus belajar sekitar 144 jam. Lalu mata kuliahnya ada 10, satu mata kuliah rata-rata lima bab, berarti 50 bab. Satu bab ada 10 halaman (50 x 10 = 500 halaman). Sedangkan waktu yang dimiliki hanya 144 jam. Berarti satu jam kita harus menguasai minimal tiga lembar. Jadi kuncinya adalah petakan dulu potensi dan masalahnya, kemudian bekerjalah secara stabil dengan peta itu.

Namun, tentu saja jangan cuma membuat perencanaan tanpa melatih kedisiplinan untuk menjalankannya. Betapa banyak orang yang hanya pandai membuat rencana. Dan sebuah rencana tidak perlu muluk-muluk. Si rencana itu sendiri harus proposional agar mudah menjalankannya.

Pelajar maupun mahasiswa juga berhak memiliki waktu istirahat. Di sini, sebetulnya Allah sudah menyediakan jadwal shalat sebagai sarana untuk mendinginkan pikiran. Membasuh anggota tubuh dengan air wudhu, lalu bersujud kepada Allah akan membuat hati menjadi tentram dan sirkulasi darah tentunya akan lebih baik. Jika hati tentram, walaupun badan lelah, maka diri kita akan menjadi tenang. Apalah artinya, badan tenang namun hati lelah? Oleh karena itu ibadah yang bagus itu sebetulnya merupakan sebuah refreshing yang luar biasa.

Dengan demikian, marilah kita jadikan setiap detik bagitu berarti sehingga cukup menjadi sarana untuk memacu peningkatkan kualitas dan pemahaman kita terhadap kebenaran. Sehingga iman kita semakin menebal, amal kita semakin produktif, kualitas akhlak meningkat dan kesabaran kita menjadi teladan dalam menetapi kebenaran ini. Sehingga panjang-pendeknya umur kita menjadi sangat berarti, sebagaimana sabda Rasulullah saw: Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umurnya dan baik amalannya. Dan sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi umur yang panjang dan jelek amalannya. (HR Ahmad). Wallahua'lam.

Oleh: KH. Abdullah Gymnastiar


Ditulis kembali oleh: Fajar Maulana
Selengkapnya >>

Isi Buku




Live Traffic Map

About This Blog

Blog Ukhuwah dan Silaturrohim Angkatan 2004 PNJ

Anggota

Blog Stats

PageRank


Guestbook

  © Blogger template 'Perfection' by Ourblogtemplates.com 2008 | Edited by IndrakidzDotNet  ©2010

Kembali ke ATAS