Pergi ke BAWAH  

Wednesday, 10 April 2013

Pantulan Keimanan


REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Makmun Nawawi

Suatu hari bibi Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz pergi ke rumahnya dengan maksud hendak meminta tambahan dari Baitulmal. Ketika wanita itu masuk, ia melihat keponakannya yang Amirul Mukminin itu sedang makan kacang adas dan bawang (makanan rakyat biasa).

Melihat bibinya datang, Umar menghentikan makannya. Ia sudah tahu maksud kedatangan bibinya. Lalu Umar bin Abdul Aziz mengambil sedirham uang perak, dan dibakarnya di atas api.

Sesudah cukup panas, ia bungkus uang perak itu dengan kain dan diberikan ke tangan bibinya. “Inilah tambahan yang bibi mintakan itu!” ujarnya.

Karuan saja, begitu tangan wanita itu menggenggam bungkusan tersebut, ia menjerit kepanasan. Lalu Umar berkata menjelaskan, “Jika api dunia terasa amat panas, bagaimana dengan api akhirat  kelak yang akan membakar aku dan bibi, karena menyelewengkan harta kaum Muslimin.”

Sebuah harmoni yang indah sekali dari keimanan dan kecerdasan, yang menyatu dalam diri pemimpin. Betapa konsep keimanan yang menghunjam dan aplikatif dalam diri sang muslim punya kontribusi besar dalam menciptakan kehidupan yang manis. 

Sedang hari-hari ini, bagaimana ruh keimanan itu menguap begitu saja, dan tak lebih hanya menjadi wacana belaka. Karena deretan penyelewengan, penyalahgunaan jabatan, korupsi, dalam berbagai level, menjadi santapan harian media kita.

Menjadi manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa hanya ada dalam slogan, tidak dalam amalan. Kehadiran lembaga khusus yang menangani kasus korupsi saja, KPK, sudah cukup menjadi sinyal betapa korupsi merupakan penyakit akut di sini.

Pekik keimanan dibungkam sedemikian rupa, sehingga yang lahir adalah sikap-sikap yang berlawanan dengan kehendak Ilahi, yang dipicu oleh nafsunya sendiri, keluarga, atau kroni-kroninya.

Sebagaimana tersimbul dalam narasi di atas, Umar bin Abdul Aziz piawai sekali dalam menangkis hasutan keluarganya untuk merampas kekayaan negara (umat), yang dibentengi dengan kekuatan iman.

Pantulan keimanan yang sama juga pernah terjadi pada era Nabi. Seperti yang  dituturkan Ummu Salamah, ada dua orang yang bertikai menyangkut warisan. Keduanya tiada bukti, kecuali hanya pengakuan mereka saja.

Masing-masing mengklaim: “Ini hak saya!” Seraya menolak kalau harta itu milik salah seorang dari keduanya. Lalu keduanya mengadukan perkaranya kepada Rasulullah SAW, tapi di dadanya tetap bercokol egoisme yang tinggi.

Kemudian Rasulullah saw meremukkan telinga dan hati keduanya dengan sabdanya yang hidup ini: “Aku hanyalah manusia biasa, dan kalian berselisih serta meminta keputusan kepadaku.''

Rasulullah melanjutkan, ''Boleh jadi salah seorang di antara kalian lebih hebat dalam memberikan argumentasi dari yang lain, sehingga aku memutuskan sesuai dengan apa yang kudengar darinya.''

''Jika aku memenangkan seseorang dengan sesuatu yang merupakan hak saudaranya, maka janganlah ia mengambilnya sedikit pun. Karena berarti aku menyematkan lempengan api neraka padanya.”

Setelah mendengar sabda Nabi itu, tersentuhlah tali keimanan dari hati keduanya, bersemilah ketakutan kepada Allah dan (siksa-Nya) di kampung akhirat. Lalu keduanya menangis, seraya masing-masing berujar kepada yang lain, “Hak saya, untuk engkau!”

“Jika kalian memang hendak berbuat demikian,” ucap Nabi, “Maka bagilah dan lakukanlah dengan benar. Lantas minta halallah masing-masing kalian berdua, dan hendaklah toleran terhadap apa yang mungkin ia merupakan hak saudaranya.”

Selengkapnya >>

Obat Galau

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Musyaddad Lc

Hari itu seorang sahabat dari kalangan Anshar bernama Abu Umamah menyendiri di satu sudut masjid. Dengan wajah lesu dan lunglai, sahabat ini terpaku dalam sunyinya rumah Allah itu.

Tidak ada seorang pun di sana karena memang saat itu bukanlah waktu orang ke masjid untuk menunaikan shalat atau bermuzakarah mengkaji kitab Allah maupun sunah Rasulullah.

Abu Umamah hanya sendiri ditemani satu harapan kiranya Allah memberikan secercah kemudahan terhadap semua masalahnya hari itu.

Beberapa waktu berlalu hingga sunyi itu terpecah dengan kehadiran Rasulullah saw dari bilik masjid. Rasulullah saw mendekati Abu Umamah.

Ketika menghampiri Abu Umamah, sang Nabi bertanya, “Wahai Abu Umamah, ada apa gerangan yang membuatmu berada di dalam masjid sendirian di waktu seperti ini?”

Seketika itu Abu Umamah menjawab, “Duhai Rasulullah, aku dirundung rasa galau dan sedang diimpit utang.”

Mengetahui masalah yang menimpa sahabatnya ini, Rasulullah segera memberikan tawaran jalan keluar. Rasulullah saw bersabda, “Duhai Abu Umamah, maukah engkau aku ajarkan suatu amalan (doa), yang apabila engkau terus membacanya di waktu pagi dan petang Allah akan menghilangkan darimu rasa galau itu, dan Ia akan memudahkan engkau melunasi utangmu.

Dengan wajah semringah, Abu Umamah menjawab, “Mau ya Rasulullah.” Lalu Rasulullah melanjutkan, “Bacalah di waktu pagi dan petang, ‘Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari rasa galau dan sedih, dan aku berlindung kepada-Mu dari rasa lemah dan malas, dan aku berlindung kepada-Mu dari rasa pengecut dan bakhil, dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan tekanan orang lain’.”
Abu Daud dan al-Baihaqi mencatat dengan apik kelanjutan cerita singkat ini. Beberapa waktu kemudian, setelah Abu Umamah rutin memanjatkan doa ini kepada Allah di pagi dan petang harinya, ia berujar, “Setelah aku merutinkan amalan yang diajarkan Rasulullah itu, Allah menghapus dari diriku rasa galau yang menimpaku dan Ia memudahkan bagiku untuk melunasi utang yang melilitku.”

Setiap orang tidak akan pernah luput dari problematika kehidupan. Karena sesungguhnya hamparan ruang dan waktu yang dinikmati setiap manusia hakikatnya adalah ujian dari Allah.

Allah ingin mengetahui sejauh mana ketahanan kita terhadap ujian itu. Galau dan gelisah adalah satu dari sekian masalah kejiwaan yang kerap menyesaki jiwa seseorang.

Dari sinilah timbul rasa tidak percaya terhadap diri sendiri. Dan, dari sini pula sikap pesimistis, putus asa, dan matinya kemampuan untuk berharap muncul dan mengakar.

Namun, bagi seorang mukmin yang menjadikan Alquran dan Sunah Nabi Muhammad sebagai tuntunan hidup, kegalauan, keresahan, dan rasa risau ini bukanlah sesuatu yang sulit diobati.

Cukuplah baginya menengadah, memohon kepada Rabbnya di pagi dan petang harinya seraya berdoa, “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari rasa galau dan sedih, dan aku berlindung kepada-Mu dari rasa lemah dan malas, dan aku berlindung kepada-Mu dari rasa pengecut dan bakhil, dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan tekanan orang lain.”
Selengkapnya >>

Keutamaan mengidolakan Rasulullah SAW

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh Soraya Khoirunnisa Halim

Anas ibnu Malik ra meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Sungguh beruntung sekali orang yang beriman kepadaku dan pernah melihatku, sungguh beruntung sekali orang yang beriman kepadaku dan belum melihatku sampai tujuh kali."

Hadis tersebut jelas membawa berita gembira bagi kita umat Rasululllah Saw yang beriman kepadanya walaupun belum pernah melihat sosok pemimpin umat terhebat tersebut. Tidak main-main, bahkan keberuntungan kita tujuh kali lipat dibanding para sahabat ra. Namun syarat keberuntungan ini pun tidak pula main-main. Harus terdapat iman kepada Rasulullah Saw.

Salah satu indikator adanya keimanan kepada Rasulullah Saw di dalam hati kita adalah adanya rasa cinta kepada Rasulullah Saw. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah bersabda "Tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya dan dari manusia seluruhnya."

Marilah kita jujur bertanya kepada hati kita masing-masing. “Sudahkah kita mencintai Rasulullah lebih dari orang tua, anak, dan manusia seluruhnya?” Tampaknya kita harus banyak beristighfar.

Kondisi zaman pada saat ini telah banyak membiaskan kecintaan serta keidolaan kita. Minoritas manusia saat ini mengidolakan Nabi Akhir Zaman Muhammad Saw. Sedang mayoritas, pastilah poster-poster rocker atau artis atau apalah itu yang memenuhi dinding kamar mereka. Padahal jelaslah sudah Allah berfirman di dalam Alquran bahwa di dalam diri Rasulullah terdapat suri teladan yang paling baik.


Untuk mencintai Rasulullah Saw secara paripurna memanglah membutuhkan proses dan usaha yang harus dijalankan dengan segenap jiwa. Harus ada kesadaran dan keinginan dari dalam hati untuk dapat mencintai Rasulullah Saw. Bagaimana mungkin kita tidak ingin mencintai Rasulullah, sedang syafa’at beliaulah yang akan menyelamatkan kita dari siksa api neraka.

Seorang remaja yang setiap harinya membaca gosip seorang artis, dengan tekun menyimak beritanya, mendengarkan lagu rocker kesukaannya, mendiskusikannya dengan teman-temannya, sudah barang tentu lambat laun kecintaannya pada artis tersebut setiap harinya semakin bertambah.

Demikian pula, untuk semakin mencintai Rasulullah kita perlu sering membaca kisah-kisah beliau yang menggetarkan jiwa. Kita perlu sering membicarakan Rasulullah dengan segala kesempurnaan akal dan akhlaknya. Kita berusaha menghidupkan sunnah Rasulullah dalam keseharian kita, mulai dari yang paling sederhana.


Dilengkapi dengan doa kepada Allah agar dimasukkan rasa cinta kepada Rasulullah Saw didalam hati kita, InsyaAllah lambat laun kita akan semakin mencintai Rasullulah Saw. Manusia yang harus lebih kita cintai dari pada orang tua, anak ataupun manusia seluruhnya.

Momen Maulud Nabi belum lama ini semoga dapat menyadarkan kita untuk menjadikan Rasulullah Saw sebagai idola nomor satu kita. Sehingga kita tidak ragu-ragu untuk mengatakan, “Our Idol is Muhammad Rasulullah Saw.” Mari bersalawat ke atas Nabi.
Selengkapnya >>

Wednesday, 23 November 2011

Allah Sebagai Pelindung

Setelah Pemilihan Umum Pertama (1955), Hamka terpilih menjadi anggota Dewan Konstituante dari Masyumi mewakili Jawa Tengah. Setelah Konstituante dan Masyumi dibubarkan, Hamka memusatkan kegiatannya pada dakwah Islamiah dan memimpin jamaah Masjid Agung Al-Azhar, di samping tetap aktif di Muhammadiyah. Dari ceramah-ceramah di Masjid Agung itulah lahir sebagian dari karya monumental Hamka, Tafsir Al-Azhar.

Zaman demokrasi terpimpin, Hamka pernah ditahan dengan tuduhan melanggar Penpres Anti-Subversif. Dia berada di tahanan Orde Lama itu selama dua tahun (1964-1966). Dalam tahanan itulah Hamka menyelesaikan penulisan Tafsir Al-Azhar.

Waktu menulis Tafsir Al-Azhar, Hamka memasukkan beberapa pengalamannya saat berada di tahanan. Salah satunya berhubungan dengan ayat 36 Surah az-Zumar, "Bukankah Allah cukup sebagai Pelindung hamba-Nya...". Pangkal ayat ini menjadi perisai bagi hamba Allah yang beriman dan Allah jadi pelindung sejati.

Sehubungan dengan maksud ayat di atas, Hamka menceritakan pengalaman beliau dalam tahanan di Sukabumi, akhir Maret 1964. Berikut kutipan lengkapnya. "Inspektur polisi yang memeriksa sambil memaksa agar saya mengakui suatu kesalahan yang difitnahkan ke atas diri, padahal saya tidak pernah berbuatnya. Inspektur itu masuk kembali ke dalam bilik tahanan saya membawa sebuah bungkusan, yang saya pandang sepintas lalu saya menyangka bahwa itu adalah sebuah tape recorder buat menyadap pengakuan saya."

"Dia masuk dengan muka garang sebagai kebiasaan selama ini. Dan, saya menunggu dengan penuh tawakal kepada Tuhan dan memohon kekuatan kepada-Nya semata-mata. Setelah mata yang garang itu melihat saya dan saya sambut dengan sikap tenang pula, tiba-tiba kegarangan itu mulai menurun."

"Setelah menanyakan apakah saya sudah makan malam, apakah saya sudah sembahyang, dan pertanyaan lain tentang penyelenggaraan makan minum saya, tiba-tiba dilihatnya arlojinya dan dia berkata, 'Biar besok saja dilanjutkan pertanyaan. Saudara istirahatlah dahulu malam ini,' ujarnya dan dia pun keluar membawa bungkusan itu kembali."

"Setelah dia agak jauh, masuklah polisi muda (agen polisi) yang ditugaskan menjaga saya, yang usianya baru kira-kira 25 tahun. Dia melihat terlebih dahulu kiri kanan. Setelah jelas tidak ada orang yang melihat, dia bersalam dengan saya sambil menangis, diciumnya tangan saya, lalu dia berkata, 'Alhamdulillah bapak selamat! Alhamdulillah!' 'Mengapa,' tanya saya. 'Bungkusan yang dibawa oleh Inspektur M itu adalah setrum. Kalau dikontakkan ke badan bapak, bapak bisa pingsan dan kalau sampai maksimum bisa mati."

Demikian jawaban polisi muda yang ditugaskan menjaga saya itu dengan berlinang air mata. "Bapak sangka tape recorder," jawabku sedikit tersirap, tetapi saya bertambah ingat kepada Tuhan. "Moga-moga Allah memelihara diri Bapak. Ah! Bapak orang baik," kata anak itu.

Dalam menghadapi paksaan, hinaan, dan hardikan di dalam tahanan, Hamka selalu berserah diri kepada Allah SWT. Termasuk ketika Inspektur M datang membawa bungkusan malam itu, Hamka tetap dengan pendirian. "Bukankah Allah cukup sebagai pelindung hamba-Nya."


Dikutip dari Republika, Rabu, kolom: hikmah. 23 November 2011. Oleh Prof. Dr. Yunahar Ilyas
Selengkapnya >>

Friday, 18 November 2011

Palestina di mata "Don't Tell My Mother"

Sewaktu nonton acara ini, si Diego pergi ke Jerusalem (the holy land). Di sana dia ke Israel dan Palestina. Pertama dia pergi ke Israel, dia ikut tur warga Israel yang ingin ke Jerusalem. Namun, ternyata itu adalah tur yang unik. Karena ketika mereka ziarah di Hebron malah mereka di protes oleh penduduk setempat. Jadi, mereka tau bahwa guide-nya adalah seorang aktivis perdamaian. Nah, disitulah mereka tidak sepakat karena Israel tidak bisa bersatu dengan Palestina. Dan ketika tur itu berjalan antara penduduk dan peserta tur saling merekam. Biar ketika terjadi tindakan kejahatan maka bisa dijadikan bukti rekaman tersebut. Saat si tour guide menjelaskan tempat-tempat di Hebron, malah mereka dicaci maki dan diberikan "wejangan" oleh penduduk setempat. Namun, peserta malah menjadi antusias dan tetap mendengarkan si tour guide. Setelah itu mereka pergi ke sebuah rumah warga Muslim yang tinggal di Israel. Mereka beranggotakan 4 orang; 1 ayah, 1 ibu dan 2 anak (yang saya lihat di tv). Kemudian Tuan rumah bilang bahwa tetangga sebelah rumahnya persis, selalu meneriakkan dia harus pulang ke Palestina. Jangan tinggal di sini, namun hal itu tidak lantas menjadi masalah bagi Tuan rumah. Sampai ketika Diego dan peserta tur ke sana, si tetangga terus meneriakkan hal-hal aneh. Masyallah

Kedua, ketika Diego di Palestina. Perjalanan masuk ke Palestina begitu panjang (tidak seperti sewaktu di Israel), melewati pintu masuk yang seperti lorong namun out door karena di dekat padang pasir. Diego dibawakan tasnya oleh 2 orang penduduk Palestina yang menjadi kuli. Membawa tas turis di perbatasan sangat membuat mereka bahagia, karena bisa mendapatkan uang dan karena di Palestina susah mendapat pekerjaan. Begitu yang dikatakan oleh supir yang mengantar Diego ke Palestina.

Kemudian ketika sudah masuk di wilayah Palestina, Diego bingung kenapa banyak sekali billboard foto syuhada/martir di jalanan Gaza?. Ternyata, ketika seseorang meninggal menjadi syuhada maka oleh pihak keluarga foto mereka dipampang di jalanan hingga seukuran baliho. Padahal itu bukan iklan, yaa. Yah, mungkin itu untuk menghargai jasa mereka untuk kebebasan Palestina. Dan ternyata di Gaza banyak percetakan yang membuat foto-foto para syuhada tersebut, mereka membuat percetakan untuk membuat baliho/poster tersebut karena itulah satu-satunya pekerjaan yang bisa memberi mereka makan.

Well, selain susah mendapatkan uang di Gaza juga susah mendapatkan makanan. Di sana, makanan dijatah oleh Pemerintah Israel. Pembagiannya sekitar 1 bulan sekali. Diambil dengan cara truk-truk datang ke perbatasan kemudian si supir mengambil makanan tersebut, namun dengan rebutan. Dan sadisnya ketika mereka tau sudah ada makanan yang mendekat ke perbatasan, malah mereka diberondong tembakan oleh tentara Israel yang mengawal makanan tersebut. Tembakan tersebut dimaksud supaya supir-supir truk tidak langsung mendekat ke makanan. Tetapi ketika si supir-supir truk tersebut sudah mendapatkan makanan, ternyata makanan tersebut sudah busuk seperti ikan dan daging karena terlalu lama proses pengirimannya (atau memang sengaja?). Dan parahnya lagi, makanan seperti telur yang mudah pecah hancur karena terkena truk-truk yang mengantar makanan dari pihak Israel. Padahal jumlah telur tersebut berkrat-krat, tidak sedikit tapi banyak sekali!!!. Yah, bisa dibilang kurang ajar memang sikap pihak Israel tersebut.

Itulah, cerita Diego Bunuel ketika ke Yerusalem "the holy land". Pihak Israel selalu merongrong penduduk Palestina karena memang ingin melenyapkan Palestina sendiri. Hal-hal diatas dilakukan agar penduduk Palestina tidak betah tinggal.



Wallahu'alam
Freedom for Palestine!!!
Selengkapnya >>

Thursday, 10 November 2011

Pemimpin Harus Bisa Melakukan Transformasi Diri II

Dalam setiap kasus ini, mereka berhenti berpikir sebagai buruh, aktor, agen, atau guru mulai bersikap sebagai pemimpin negara. Di sini, mereka yang beruntung dilahirkan dalam dinasti politik memang mempunyai kelebihan tersendiri, karena mereka sudah terbiasa dengan kehidupan sehari-hari dunia pemerintahan dan suasana protokoler kenegaraan yang penuh kemegahan.

Hal ini pasti dirasakan oleh sederetan pemimpin dunia yang ayah atau ibunya juga pemimpin negara: almarhumah Benasir Bhutto, George W. Bush, Gloria Macapagal Arroyo, Megawati Soekarno Putri, almarhum Rajiv Ghandi, almarhumah Indira Gandhi, Lee Hsien Loong dan Yasuo Fukuda.

Namun keharusan 'transformasi diri' tetap berlaku bagi mereka: begitu mereka menjadi pemimpin negara, mereka harus segera ke luar dari kungkungan nama dinasti keluarga dan mengukir prestasinya sendiri. Dalam proses pembuatan keputusan sehari-hari, faktor yang paling menentukan adalah judgment, bukan keturunan.


Dikutip dari buku: Harus Bisa!, karangan Dr. Dino Patti Djalan
Selengkapnya >>

Pemimpin Harus Bisa Melakukan Transformasi Diri I

Pada bulan Mei 2007, saya diutus SBY bersama Menkominfo Muhammad Nuh ke Oslo untuk mewakili Presiden dalam "Global Intermedia Dialogue." Disana, saya bertemu dengan seorang Menteri Norwegia, Raymond Johansen, seorang politisi muda yang enerjik, kompeten, charming dan populer. Saya sempat terpana mendengar pidato Menteri Raymond yang inspiring, namun saya lebih terpukau lagi ketika saya menanyakan pekerjaannya sehari-hari: "Tukang ledeng!" katanya dengan bangga.

Semua orang--apapun pendidikan dan pekerjaannya--dapat menjadi pemimpin. Namun begitu menjadi pemimpin, ia harus bisa beradaptasi terhadap tuntutan tugas barunya. Saya teringat, Paul Wolfowits* pernah menyatakan pada Dr. Alwi Shihab--waktu itu beliau Menlu--bahwa tantangan Gus Dur yang paling utama adalah bagaimana beliau dapat berpikir, berucap dan bertindak sebagai Presiden Republik Indonesia dan bukan lagi berpikir, berucap dan bertindak sebagai Kiai tersohor atau komentator yang cerdik.

Ucapan Paul Wolfowits itu terus saya ingat karena berlaku bukan saja bagi Gus Dur tapi bagi semua orang yang ingin menjadi pemimpin yang efektif. Yang penting bukan apa pekerjaan sebelumnya, namun apakah seseorang mampu melakukan transformasi diri dalam lingkungan barunya.

Dengan itulah, Lech Walesa, seorang tukang listrik di pelabuhan Gdansk, sukses menjadi Presiden Polandia dan memenangkan Nobel Perdamaian. Dengan itulah, Ronald Reagan, seorang aktor kelas-B di Hollywood, dapat menjadi Gubernur California dan kemudian Presiden AS yang meluncurkan 'Reagan Revolution.' Dan dengan itulah, Vladimir Putin, seorang agen KGB, menjadi Presiden Rusia yang paling sukses.

Di Indonesia, satu contoh transformasi diri yang menakjubkan adalah Panglima Besar Jenderal Soedirman, yang mengalami berbagai transformasi diri: dari seorang guru dan Da'i, menjadi tokoh kepemudaan, menjadi Daidancho PETA dan kemudian Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat, pemimpin gerilya yang sangat ulung dan akhirnya pahlawan nasional yang abadi.


Dikutip dari buku: Harus Bisa! karangan Dr. Dino Patti Djalal
Selengkapnya >>

Isi Buku

Live Traffic Map

About This Blog

Blog Ukhuwah dan Silaturrohim Angkatan 2004 PNJ

Anggota

Blog Stats

PageRank


Guestbook

  © Blogger template 'Perfection' by Ourblogtemplates.com 2008 | Edited by IndrakidzDotNet  ©2010

Kembali ke ATAS