Pergi ke BAWAH  

Monday, 29 March 2010

Mendayagunakan Potensi Waktu

Waktu demi waktu yang sudah kita jalani. Jika mau jujur, tiap desah napas adalah satu langkah menuju kubur. Perayaan ulang tahun, sebenarnya adalah perayaan berkurangnya jatah umur kita. Alangkah ruginya jikalau kita menjalani sesuatu yang begitu berharga lalu kita sia-siakan dia. Begitu urgennya masalah waktu, sampai ada yang mengatakan, "Jika engkau ingin tahu manusia yang paling bodoh, lihatlah orang yang diberi modal dan modalnya dihamburkan sia-sia."

Tidak bisa kita pungkiri bahwa satu-satunya yang tidak bisa direm adalah waktu. Setiap orang punya jatah yang sama, 24 jam. Orang yang sukses dengan yang gagal, begitupun calon ahli surga dan calon ahli neraka, waktu yang diberikan kepada mereka semua adalah sama. Yang jadi soal adalah bagaimana mengelola waktu agar menjadi manfaat di dunia dan akhirat?

Karena itulah Allah SWT meletakkan waktu sebagai nilai yang menentukan timbangan kerugian dan keuntungan manusia dalam hidupnya. Seperti yang tercantum dalam surat Al 'Ashr ayat 1-3: Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling menasehati dalam menaati kebenaran dan nasehat menasehati dalam menetapi kesabaran.

Surat Al 'Ashr di atas memang laksana laut tak bertepi. Setiap kali kita men-tadabburi-nya, setiap itu pula kita menemukan makna-makna baru yang menuntut kesadaran baru yang lebih intens dalam soal waktu. Paling tidak, dari surat tersebut kita yakin bahwa setiap manusia hanya akan menghabiskan waktunya dalam kerugian, kecuali mereka yang memiliki kemampuan memanfaatkan waktu untuk empat perkara.

Pertama
orang yang pasti beruntung adalah orang yang setiap hari bertambah kekuatan iman dan keyakinannya terhadap kebenaran. Jadi, kalau orang bertambah usia tapi tidak mengerti hidup ini untuk apa dan diabdikan untuk siapa? Dia tidak mengerti agama, tidak mengerti iman, maka hidupnya benar-benar sia-sia saja. Hidupnya hampa karena perbuatannya tidak dilandasi niat ibadah karena Allah.

Jadi 'maaf-maaf' saja, orang punya harta, gelar, pangkat, jabatan, punya segala-galanya, tapi tidak punya iman, dia termasuk orang yang merugi. Bobot pahala tidak dihitung dari semua itu. Betapa kasihan, sudah sibuk luar biasa di dunia tapi ketika mati hanya jadi bangkai, lalu hanya dosa-dosanya saja yang akan dihitung. Naudzubillahi mindzalik.

Lantas bagaimana agar iman menjadi kuat? Pupuk penguat iman adalah ilmu. Jika kita tidak pernah mencari ilmu, maka sama saja dengan menanam pohon tanpa memupuknya. Lambat laun pohon itu akan layu, menguning, kering, dan mati.

Kedua
ciri orang yang beruntung adalah mereka yang dapat memanfaatkan setiap waktunya menjadi amal saleh. Kita tidak perlu dipusingkan dengan apa yang akan kita dapatkan, karena pahala dan balasan dari setiap amal tidak akan tertukar. Tidak ada yang tertukar dari karunia dan balasan Allah. Yang harus kita pikirkan setiap waktu adalah bagaimana agar setiap detik waktu kita bisa jadi amal kebaikan?

Oleh karena itu jangan panik dengan apa pun yang belum terjadi, jika telah kita isi setiap waktu kita dengan beramal, beramal, dan beramal. Buat diri kita bagaikan radar, yang teramat sensitif ketika melihat ladang amal, Insya Allah kita akan beruntung. Jangan banyak berharap ini dan itu dari setiap amal yang kita perbuat, karena dengan sendirinya amal-amal itu akan mengundang keberkahan bagi diri kita sendiri.

Ketiga,
ciri selanjutnya adalah orang yang mendakwahkan kebenaran. 
Orang itu beruntung kalau menjadi contoh kebaikan, sehingga setiap orang yang meniru kebaikan kita, kebaikan itu pahalanya mengalir juga untuknya. Semua manusia pasti mati. Dan salah satu warisan yang seharusnya kita tinggalkan adalah nama baik. Sedangkan nama baik hanya ada kalau hidup kita menjadi contoh kebaikan. Jangan sampai ketika kita mati, yang diceritakan orang lain tentang kita adalah kisah buram tentang si koruptor, si maling uang rakyat, si sombong, si serakah, dan semacamnya. Na'udzubillah.

Nabi Muhammad saw merupakan contoh kebaikan. Sejak ribuan tahun yang lalu hingga detik ini, bahkan menjangkau jarak hingga ribuan kilometer, hanya kebaikan-kebaikannya yang banyak disebut orang. Subhanallah. Salah satu sebabnya adalah karena sebagai orang yang sangat terpelihara dari kesia-siaan. Sekecil apa pun perbuatannya, Rasulullah terbebas dari kesia-siaan. Rasulullah saw adalah pribadi efektif yang penuh makna.

Maka, kalau kita ingin termasuk orang-orang yang beruntung, usahakanlah agar setiap waktu membuat diri kita bagaikan cahaya matahari. Menerangi orang-orang yang berada dalam kegelapan. Menumbuhkan bibit-bibit kebaikan, menyegarkan batang-batang yang layu. Karena itu, tempalah diri kita sedemikian rupa agar selalu menjadi jalan kebaikan bagi sebanyak mungkin hamba-hamba Allah. Tidak peduli agama apa pun, karena kita tercipta untuk menjadi rahmatan lil 'alamin, rahmat bagi seluruh alam. Hingga bagi binatang pun, kita harus menjadi rahmat. Insya Allah.

Keempat
ciri terakhir orang itu yakin bahwa setiap waktu yang dia jalani akan banyak menghadapi cobaan-cobaan. Oleh karena itu, hanya orang-orang yang punya kesabaran di dalam menegakkan kebenaran inilah yang beruntung. Sebab jika tidak sabar, kita akan goyah, rontok, tidak menjadi contoh, dan akhirnya kita tidak memperoleh apa pun di akhirat kelak. Kekuatan pribadi untuk saling menasihati dalam kebenaran adalah bagian dari keberuntungan kita semua. Tanpa kesabaran, mustahil kita akan mengenal Allah dengan baik. Akibatnya kita akan dilanda nestapa. Na'udzubillah.

Orang yang cantik jelita maupun gagah rupawan serta memiliki jabatan dan kedudukan tinggi, tapi tidak mengenal Allah, tidak beramal saleh, dan pribadinya hanya menjadi contoh keburukan, maka hidupnya hanyalah kerugian. Karena sehebat apa pun topeng duniawi yang kita miliki hanya bersifat sementara. Semua yang gagah akan mati, semua yang punya jabatan, gelar, kekayaan, atau kedudukan, juga akan mati. Masalahnya, apakah kematian itu khusnul khatimah (baik di akhirnya) atau su'ul khatimah (jelek di akhirnya)? Semua itu pada akhirnya lebih bergantung dari bagaimana cara kita mengisi waktu demi waktu dalam hidup ini.

***

Waktu 24 jam sehari tidak bisa kita tambah. Sekalipun kita beli jam tangan yang 36 jam (kalau saja ada), pasti tidak laku, karena waktu akan berjalan apa adanya. Dan kita tidak bisa mengeremnya. Idealnya setiap waktu sudah ada jadwal kebaikannya sendiri-sendiri. Yang kerap membuat rusak urusan kita adalah karena kita salah mengisinya. Untuk memenej waktu, yang paling penting adalah membuat peta dari apa yang akan kita lakukan. Tanyakan pada diri kita: Apa yang wajib kita lakukan? Apa yang sunah? Dan apa yang mubah-mubah saja untuk diperbuat? Contoh yang wajib ditunaikan adalah hak Allah (shalat), hak istirahat, dan hak makan. Selanjutnya yang sunah sebut saja berolahraga. Dan yang mubah, misalnya rekreasi atau menonton tv (yang acaranya bermanfaat tentu). Kalau acaranya buruk, tentu kita lebih tahu bagaimana menyikapinya.

Seorang mahasiswa yang akan menghadapi ujian, waktunya tiga bulan lagi, maka seharusnya dia membuat perencanaan. Sehari, atau belajar berapa jam? Katakanlah dua jam. Seminggu mau berapa kali belajar? Enam kali. Berarti 6 x 2 = 12 jam per minggu dan satu bulan ada sekitar 48 jam. Jadi dalam tiga bulan dia sudah harus belajar sekitar 144 jam. Lalu mata kuliahnya ada 10, satu mata kuliah rata-rata lima bab, berarti 50 bab. Satu bab ada 10 halaman (50 x 10 = 500 halaman). Sedangkan waktu yang dimiliki hanya 144 jam. Berarti satu jam kita harus menguasai minimal tiga lembar. Jadi kuncinya adalah petakan dulu potensi dan masalahnya, kemudian bekerjalah secara stabil dengan peta itu.

Namun, tentu saja jangan cuma membuat perencanaan tanpa melatih kedisiplinan untuk menjalankannya. Betapa banyak orang yang hanya pandai membuat rencana. Dan sebuah rencana tidak perlu muluk-muluk. Si rencana itu sendiri harus proposional agar mudah menjalankannya.

Pelajar maupun mahasiswa juga berhak memiliki waktu istirahat. Di sini, sebetulnya Allah sudah menyediakan jadwal shalat sebagai sarana untuk mendinginkan pikiran. Membasuh anggota tubuh dengan air wudhu, lalu bersujud kepada Allah akan membuat hati menjadi tentram dan sirkulasi darah tentunya akan lebih baik. Jika hati tentram, walaupun badan lelah, maka diri kita akan menjadi tenang. Apalah artinya, badan tenang namun hati lelah? Oleh karena itu ibadah yang bagus itu sebetulnya merupakan sebuah refreshing yang luar biasa.

Dengan demikian, marilah kita jadikan setiap detik bagitu berarti sehingga cukup menjadi sarana untuk memacu peningkatkan kualitas dan pemahaman kita terhadap kebenaran. Sehingga iman kita semakin menebal, amal kita semakin produktif, kualitas akhlak meningkat dan kesabaran kita menjadi teladan dalam menetapi kebenaran ini. Sehingga panjang-pendeknya umur kita menjadi sangat berarti, sebagaimana sabda Rasulullah saw: Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umurnya dan baik amalannya. Dan sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi umur yang panjang dan jelek amalannya. (HR Ahmad). Wallahua'lam.

Oleh: KH. Abdullah Gymnastiar


Ditulis kembali oleh: Fajar Maulana
Ikon ini merupakan link ke situs bookmark sosial dimana pembaca dapat berbagi dan menemukan halaman web baru.
  • Digg
  • Sphinn
  • Delicious
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • 0 komentar:

    Catatan Kaki:



    Kotak komentar pada artikel ini masih kosong, Silahkan diisi untuk menambah semangat kami untuk terus berkarya memberikan informasi kepada anda semua yang membaca di blog ini

    Tak ada yang bisa kami berikan selain ucapan terima kasih karena telah memberikan apresiasi terhadap artikel-artikel Fushilat 2004

    Post a Comment

    Isi Buku

    Live Traffic Map

    About This Blog

    Blog Ukhuwah dan Silaturrohim Angkatan 2004 PNJ

    Anggota

    Blog Stats

    PageRank


    Guestbook

      © Blogger template 'Perfection' by Ourblogtemplates.com 2008 | Edited by IndrakidzDotNet  ©2010

    Kembali ke ATAS